Saat Anak Dididik, Bukan Sekadar Disekolahkan

 

Ketika memilih pendidikan untuk anak, orang tua biasanya tidak main-main. Sekolah terbaik dicari, fasilitas dipertimbangkan, kualitas guru diperhatikan, bahkan biaya pun rela diusahakan. Semua demi satu harapan: anak mendapatkan masa depan yang baik.

Namun, ada satu hal yang tidak selalu bisa dibeli dengan sekolah terbaik: akhlak.

Sebab, membangun karakter anak bukan hanya tentang di mana ia bersekolah, tetapi juga tentang siapa yang mendidiknya di rumah, lingkungan seperti apa yang ia temui, dan keteladanan apa yang setiap hari ia saksikan.

Ketika akhlak sudah ditanamkan di sekolah atau madrasah, tetapi dibiarkan layu di rumah, bagaimana mungkin ia tumbuh dengan baik? Sekolah boleh saja menyiram dan merawatnya selama beberapa jam, tetapi rumah adalah tempat anak kembali setiap hari. Jika apa yang ditanamkan di sekolah tidak mendapat dukungan di rumah, bukankah sayang jika semuanya hanya berakhir sia-sia?

Dalam sebuah riwayat, Nabi ﷺ menyampaikan:

حقّ الولد على والده أن يحسن اسمه ويحسن مرضعه ويحسن أدبه

“Hak anak yang harus dipenuhi orang tua adalah mendapatkan nama yang baik, pemeliharaan yang baik, dan pendidikan akhlak yang baik.”[1]

Maka, orang tua tetap memiliki peran yang tidak bisa begitu saja dialihkan kepada sekolah. Jika belum mampu mendampingi seluruh proses pendidikan secara langsung, setidaknya orang tua dapat mengetahui bagaimana keseharian anaknya: dengan siapa ia bergaul, apa yang ia lakukan, bagaimana kebiasaannya, dan nilai-nilai apa yang sedang ia pelajari.

Jangan sampai karena merasa sudah membayar sekolah atau lembaga pendidikan yang baik, orang tua kemudian merasa tugasnya selesai. Karena anak bukan sekadar dititipkan untuk belajar, lalu dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.

Lantas, bagaimana jika orang tua benar-benar memiliki keterbatasan waktu untuk mendampingi anak setiap hari?

Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah menitipkan anak di lembaga pendidikan berasrama, seperti boarding school atau pondok pesantren. Di sana, pendidikan tidak berhenti ketika jam pelajaran selesai. Anak hidup dalam lingkungan yang memungkinkan pembiasaan, pengawasan, dan pendampingan berlangsung lebih intensif.

Namun, ketika anak sudah dititipkan di pesantren sekalipun, bukan berarti tanggung jawab orang tua selesai.

Ulama-ulama kita sering kali menekankan adanya tiga komponen utama dalam keberhasilan belajar: guru yang mengajari, orang tua yang membiayai sekaligus mentirakati-mengiringi proses belajar dengan doa, dukungan, dan perhatian-, serta anak yang belajar dengan sungguh-sungguh.

Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Guru tidak bisa bekerja tanpa dukungan orang tua. Orang tua tidak bisa menyerahkan semuanya kepada guru. Dan anak pun tetap harus mengambil bagian dengan kesungguhan.

Seandainya terjadi kemerosotan moral dan intelektual pada anak, maka tidak serta merta menyalahkan lembaga pendidikan. Karena semodern apapun sekolahnya, jika orang tua tidak bisa menjadi support system yang baik, hasilnya tidak akan sempurna.

Maka, diperlukan kolaborasi yang baik antara kesungguhan anak, ketelatenan guru di sekolah dan doa orang tua. Ketiganya harus saling mengisi, saling mendukung, dan membangun keselarasan.

Pada akhirnya, anak bukanlah sekadar seseorang yang perlu dicarikan sekolah terbaik. Ia adalah amanah yang harus dididik, dibimbing, dan ditemani bertumbuh.

Sekolah boleh menjadi tempat menanam ilmu, pesantren menjadi tempat menanam kebiasaan, dan guru menjadi teladan. Tetapi rumah tetap menjadi tempat pertama anak belajar tentang kehidupan. Apa yang ditanamkan di sekolah akan lebih mudah tumbuh ketika dirawat pula di rumah.

Maka, pendidikan anak tidak seharusnya menjadi tanggung jawab yang dilemparkan dari satu pihak kepada pihak lainnya. Guru mengajar, orang tua mendampingi dan mentirakati, sementara anak belajar dengan kesungguhan. Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi tujuan yang sama.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang berlomba mencetak anak yang paling tinggi nilainya, paling banyak prestasinya, atau paling bergengsi sekolahnya. Kita sedang berusaha menumbuhkan seorang manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu membawa kebaikan di mana pun ia berada.

Sebab anak tidak hanya perlu disekolahkan. Ia perlu dididik.

*(ans 2026

 



[1] Hadis riwayat al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Sayidah ‘Aisyah ra.

Komentar

Postingan Populer