SEPI YANG TIDAK SELALU SUNYI
"Ono bebek podo nglangi ing banyune, nanging nggorong arep pedot goro'ane."
Begitulah penggalan syair Tanda Kiamat karya KH. Mishbah,
Bangilan, Tuban yang sering kita dengar. Bebek berenang di tengah air, tetapi
justru berteriak kehausan hingga tenggorokannya serasa putus. Sebuah gambaran
yang terdengar ganjil. Bagaimana mungkin makhluk yang dikelilingi air justru
mengeluhkan dahaga?
Barangkali syair itu bukan sedang berbicara tentang bebek. Ia sedang berbicara tentang manusia.
Kita hidup di tengah begitu banyak penawar kegelisahan, tetapi justru
mencarinya ke mana-mana. Hati terasa sempit, pikiran tak kunjung tenang, hidup dipenuhi
keluh kesah. Padahal, Allah menghadirkan banyak jalan untuk menenangkan hati.
Salah satunya adalah majelis ilmu.
Ironisnya, keberadaan majelis ilmu di sekitar kita menjadi sesuatu
yang biasa. Ia begitu dekat, sehingga kita lupa, bahwa tidak semua orang
memiliki kesempatan yang sama untuk duduk di dalamnya.
Kita kerap berharap hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih
lapang, dan hidup lebih terarah. Namun, pada saat yang sama, kita juga sering
menunda panggilan menuju tempat-tempat yang Allah jadikan sebagai ladang
ketenangan itu. Bukan karena membencinya, melainkan karena merasa selalu ada
urusan yang lebih penting.
Lagi-lagi, kesempatan itu tertunda oleh kesibukan-kesibukan kecil.
Nanti setelah makan, nanti setelah duduk, nanti setelah istirahat. Padahal, sering kali "nanti" itu tak pernah
benar-benar tiba. Mungkin bukan majelis ilmunya yang kehilangan daya tarik. Namun,
hati kita yang kehilangan rasa rindu untuk mendatanginya.
Ketika kitab telah terbuka, ilmu siap dituangkan, dan doa-doa
berkumandang, nyatanya ruangan masih lengang. Doa untuk sang mushonnif hanya
diamini satu dua orang saja. Ah, padahal barangkali kunci keberkahan
justru ada di situ letaknya.
Sebab dalam sebuah majelis ilmu, yang hadir bukan hanya kitab dan
pelajaran. Ada seorang guru yang telah meluangkan waktunya, ada ilmu yang telah
beliau siapkan, ada doa yang dipanjatkan untuk keberkahan majelis, dan ada adab
yang semestinya kita jaga.
Kita sering mengira, bahwa menghormati guru cukup dengan mencium tangan
ketika bertemu, menundukkan kepala ketika berbicara, atau memanggilnya dengan
sebutan yang baik. Padahal, ada bentuk penghormatan yang jauh lebih sederhana:
hadir ketika beliau hadir.
Guru telah menyediakan waktunya untuk kita. Maka, bukankah
menyediakan waktu untuk mendatanginya adalah bentuk penghormatan yang paling
sederhana?
Beliau tidak akan bertanya mengapa kita tidak datang. Beliau akan tetap
membuka kitab, tetap menjelaskan pelajaran, tetap menutup majelis dengan doa
meski yang duduk di hadapannya hanya beberapa orang. Sebab begitulah guru;
sering kali mereka tetap memberi meski yang menerima tidak sebanyak yang
diharapkan.
Ada hal-hal yang tidak perlu diucapkan untuk membuat kita merasa
malu. Cukup dengan melihat seorang guru tetap datang, sementara kursi-kursi di
hadapannya masih banyak yang tak bertuan.
Dan mungkin, di situlah kita perlu belajar kembali tentang adab. Bukan
tentang seberapa banyak ilmu yang sudah kita kuasai. Bukan pula tentang
seberapa sering kita duduk di hadapan guru. Tetapi tentang bagaimana kita
memperlakukan kesempatan ketika ilmu datang menghampiri kita.
Mungkin, pada akhirnya, kita memang tidak jauh berbeda dengan bebek
dalam syair itu. Berada di tengah air, tetapi tetap merasa haus. Dikelilingi
penawar, tetapi masih sibuk mencari ke tempat lain. Berada dekat dengan majelis
ilmu, tetapi memilih menundanya karena merasa selalu ada waktu setelahnya. Padahal,
siapa yang menjamin kesempatan itu masih ada esok hari?
Maka, ketika ilmu datang mengetuk pintu, yang perlu kita lakukan bukan
bertanya kapan lagi ia akan datang, melainkan segera membuka pintu dan
menyambutnya. Sebab boleh jadi, yang membuat sebuah majelis sepi bukan karena
ilmu yang kehilangan keberkahannya. Bisa jadi, kitalah yang terlalu lama
membiarkan dahaga, sementara air telah mengalir begitu dekat.
Dan akhirnya, kita kembali menjadi bebek yang berenang di tengah air,
tetapi masih berteriak kehausan.
*) ans, 2026
Komentar
Posting Komentar