Belajar, Berkhidmah, dan Mencari Berkah
(Refleksi dari Film "Berkah" Karya Santri Al Iman Bulus, Purworejo)
Sebenarnya, untuk apa kita belajar?
Jelas, agar pintar. Seperti itulah jalan pikiran Rahmat, tokoh utama dalam film Berkah. Jadi, kalau kita mau pintar, ya harus mau belajar. Titik. Paten.
Sayangnya, prinsip itu terpatahkan oleh fenomena Salman, si tukang sampah, yang ternyata lancar saat disuruh membaca kitab. Sementara Rahmat sendiri, meski telah belajar semalaman hingga lelah, tak mampu menyamai kelancarannya.
Lantas, dari mana Salman mendapatkan sesuatu yang tidak diperoleh Rahmat bahkan setelah belajar mati-matian?
Ternyata, jawaban itu Rahmat temukan saat tak sengaja mendengar pengajian dari pondok putri perihal berkah. Tentang keberkahan yang tidak selalu datang dari bangku-bangku kelas. Tentang keberkahan yang terkadang datang dari kenyamanan yang hadir saat sampah-sampah sudah terkumpul. Tentang keberkahan yang datang dari ridho guru yang marem dengan hasil khidmah, lalu melangitkan doa-doa penuh kebaikan.
Barangkali inilah yang dimiliki Salman.
Mendengar itu, Rahmat termenung. barangkali selama ini ada yang luput dari cara pandangnya tentang belajar. Hingga akhirnya, ia pun ingin ikut berkhidmah.
Sedangkan jika kita mau bercermin, bukankah dalam kehidupan nyata, kita juga sering begitu?
Kita datang untuk belajar, lalu mengukur keberhasilan dari seberapa banyak ilmu yang berhasil kita pahami. Kita sibuk mengerjar hafalan, mengejar nilai, mengerjar kemampuan dan skill. Namun, dalam perjalanan itu, ada satu hal yang terlupakan: bahwa mencari ilmu tidak hanya tentang duduk dan belajar. Ada khdimah yang menyertainya.
Sayangnya, saat khidmah itu datang, tidak semua dari kita menyambutnya dengan lapang. Ada kalanya kita terlalu merasa sibuk, terlalu lelah, atau bahkan merasa pekerjaan itu bukan bagian dari tujuan kita datang ke pondok.
Teringat seorang guru pernah dawuh, "Nek ora diwehi, ojo njaluk. Nek diwehi, tampanono" (Jika tidak diberi, jangan minta. Jika diberi, terimalah)
Rahmat mungkin sedang belajar satu hal yang selama ini tidak ada dalam bukunya: bahwa ilmu tidak hanya dicari dengan membaca, tetapi juga dengan mengabdi.
Dan mungkin, kita pun perlu belajar hal yang sama. Terkadang, kita justru menolak khidmah dengan alasan yang sepele. Tidak passion, tidak bisa, tidak mau. Tapi kita sendiri sering lupa, entah dari khidmah yang mana jalan kita akan dilapangkan. Entah dari kesulitan yang mana jiwa kita akan dibangun. Kita juga tidak pernah tahu, doa siapa yang sedang mengiringi khidmah kita. Kita tidak pernah tahu, kebaikan kecil mana yang kelak menjadi sebab dimudahkannya langkah kita.
Tapi ini bukan semata tentang film.
Ini tentang kita. Tentang khidmah yang hari ini mungkin terasa sebagai beban, tetapi bisa jadi justru sedang menjadi jalan keberkahan yang belum mampu kita lihat.
Maka, ketika kesempatan itu datang, barangkali kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Apa yang akan kudapatkan?”
Cukup terima, jalani, dan berikan yang terbaik.
Nek ora diwehi, ojo njaluk. Nek diwehi, tampanono.
Klik Film : https://youtu.be/3IpR2d7Z7SQ?si=rTA100tlL2MsZWlt
*(ans 2026
Komentar
Posting Komentar